Kamis, 04 Agustus 2011

12 Agustus 2011

12 Agustus 2011
Mat 19:3-12
            Lalu orang-orang Farisi datang untuk menjebak Dia. Mereka bertanya, "Menurut hukum agama kita, apakah boleh orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?" Yesus menjawab, "Apakah kalian belum membaca dalam Alkitab bahwa Pencipta yang membuat manusia, pada mulanya membuat mereka laki-laki dan wanita? Dan sesudah itu Ia berkata, 'Itu sebabnya laki-laki meninggalkan ibu bapaknya dan bersatu dengan istrinya, maka keduanya menjadi satu.' Jadi mereka bukan lagi dua orang, tetapi satu. Itu sebabnya apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." Lalu orang-orang Farisi bertanya kepada-Nya, "Kalau begitu mengapa Musa menyuruh orang memberi surat cerai kepada istri yang diceraikannya?" Yesus menjawab, "Musa mengizinkan kalian menceraikan istrimu sebab kalian terlalu susah diajar. Tetapi sebenarnya bukan begitu pada mulanya. Jadi, dengarlah ini: Siapa menceraikan istrinya -- padahal wanita itu tidak menyeleweng -- kemudian kawin lagi dengan wanita yang lain, orang itu berzinah." Maka pengikut-pengikut Yesus berkata kepada-Nya, "Kalau soal hubungan suami istri adalah seperti itu, lebih baik tidak usah kawin." Yesus menjawab, "Tidak semua orang bisa menerima kata-kata itu, hanya orang-orang yang sudah ditentukan oleh Allah. Karena ada orang yang tidak dapat kawin, sebab mereka memang lahir begitu. Ada juga yang tidak dapat kawin sebab ia dibuat begitu oleh orang lain. Dan ada pula yang memilih sendiri untuk tidak kawin, supaya dapat melayani Allah. Orang yang sanggup menerima pengajaran ini, biarlah ia menerimanya."

Hidup Untuk Tuhan
            Usai misa, Riki mampir ke pastoran seperti kebiasaan yang telah ia lakukan selama ini. Ia senang mengunjungi pastoran, karena setiap kali mengunjungi Romo ia selalu mendapatkan nasihat dan pengetahuan baru yang sangat berguna untuk mendewasakan dirinya. Saat bertemu Romo, Riki bertanya, ‘Romo, Romo dan Pendeta itu kan sama-sama melayani Tuhan, tapi kenapa Romo tidak boleh menikah sedangkan pendeta boleh?’ Mendengar pertanyaan Riki, Romo tersenyum sejenak lalu mencoba menjelaskan,’Dulu, para pastor pernah diperbolehkan menikah. Tapi, seringkali justru sering terjadi benturan kepentingan. Seperti halnya, ketika ada umat yang sedang membutuhkan pelayanannya, pada saat yang sama anaknya yang sakit keras. Maka, mau tidak mau ia harus merawat anaknya terlebih dahulu. Nah, jika kejadian seperti ini terus berlangsung, tentu sangat mengganggu pelayanannya kepada umat. Selain itu, tidak jarang juga di antara mereka yang justru lebih banyak memperhatikan kepentingan keluarganya dan memperkaya dirinya sendiri. Hal ini tentu saja karena berkaitan dengan kebutuhan keluarganya.
            Belajar dari pengalaman itulah, maka pada abad IV, Gereja membuat kebijakan baru untuk kembali kepada aturan awal, bahwa para pastor sebaiknya tidak menikah supaya dapat melayani umat secara total. Terlebih lagi, karena Gereja ingin meneladani hidup Yesus Kristus sendiri yang juga tidak menikah. Meski ini merupakan aturan Gereja, namun tidak bersifat memaksa. Artinya, bahwa siapa saja yang ingin menjadi pastor, sejak awal ia harus menyadari konsekuensi ini dan rela untuk hidup wadat. Sebaliknya, jika ia tidak mau menerima aturan ini dan ingin menikah saja, maka sebaiknya ia keluar sebelum ditahbiskan. Bagaimana denganmu, kamu ingin melayani Tuhan dengan menjadi pastor yang siap tidak menikah atau ingin melayani Tuhan dalam hidup berkeluarga. Satu hal yang paling penting adalah, bahwa menikah atau tidak itu bukanlah yang utama, apapun jalan hidup yang kita tempuh haruslah selalu kita persembahkan kepada Tuhan. (Christophorus Napoleon)

11 Agustus 2011

11 Agustus 2011
Mat.18:21-19:1 (Pw S.Klara, Prw)
            Kemudian Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, "Tuhan, kalau saudara saya berdosa terhadap saya, sampai berapa kali saya harus mengampuni dia? Sampai tujuh kalikah?" Yesus menjawab, "Tidak, bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali! Sebab apabila Allah memerintah, keadaannya seperti dalam perumpamaan ini: Seorang raja mau menyelesaikan utang-utang hamba-hambanya. Waktu ia mulai mengadakan pemeriksaan, dihadapkan kepadanya seorang hamba yang berutang berjuta-juta, dan tidak dapat melunasinya. Jadi, raja itu memerintahkan supaya hamba itu dijual bersama-sama dengan anak istrinya, dan segala harta miliknya untuk membayar utangnya. Hamba itu sujud di depan raja itu, dan memohon, 'Tuan, sabarlah terhadap hamba. Hamba akan melunasi semua utang hamba.' Raja itu kasihan kepadanya, sehingga ia menghapuskan semua utangnya. Ketika hamba itu keluar, ia berjumpa dengan kawannya, seorang hamba juga, yang berutang kepadanya beberapa ribu. Ia menangkap kawannya itu, mencekiknya, dan berkata, 'Bayarlah semua utangmu!' Lalu kawannya itu sujud di depannya sambil memohon, 'Sabarlah dulu kawan, semuanya akan saya bayar!' Tetapi hamba itu menolak. Sebaliknya, ia memasukkan dia ke dalam penjara sampai ia membayar utangnya. Ketika hamba-hamba yang lain melihat apa yang sudah terjadi, mereka sedih dan melaporkan hal itu kepada raja. Maka raja itu memanggil hamba yang jahat itu dan berkata kepadanya, 'Hamba yang jahat! Seluruh utangmu sudah kuhapuskan hanya karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus menaruh kasihan kepada kawanmu seperti aku pun sudah menaruh kasihan kepadamu?' Raja itu sangat marah. Hamba yang jahat itu dimasukkannya ke dalam penjara sampai ia melunasi semua utangnya." Yesus mengakhiri cerita-Nya dengan kata-kata ini, "Begitu juga Bapa-Ku di surga akan memperlakukan kalian masing-masing, kalau kalian tidak mengampuni saudaramu dengan ikhlas.” Sesudah Yesus selesai mengatakan semuanya itu, Ia meninggalkan Galilea lalu pergi ke daerah Yudea di seberang Sungai Yordan.

Terus Mengampuni
            Pagi itu Rani marah besar kepada Dani. “Kenapa kamu selalu berbohong padaku? Katanya  kemarin kamu akan datang untuk kerja kelompok, tapi kamu malah main layangan dengan teman-temanmu?” demikian kata Rani. “Maaf Ran!!” Dani memelas. “Berapa kali kamu minta maaf kepadaku. Bukan kepadaku saja, tapi kepada teman-teman kelompok kita. Aku sudah bosan dengan maafmu!!”
            Selama sepekan Rani tidak mau berbicara dengan Dani. Bahkan Rani mengundurkan diri dari kelompok belajar dan memutuskan untuk belajar sendiri di rumah bersama guru privat. Kelompok merasa kehilangan Rani dan meminta Rani untuk kembali bergabung dengan kelompok belajar mereka. Sikap Doni lambat laun mulai berubah. Doni semakin rajin datang untuk belajar kelompok. Anggota kelompok mau menerima permintaan maaf Doni, namun Rani tetap tidak mau menerima permintaan maaf Doni. Alasan Rani tidak lagi memberi maaf karena sudah terlalu sering  Doni membuat kesalahan dan Rani sudah bosan dengan permintaan maaf Doni.
            Niat baik teman kita untuk meminta maaf secara tulus perlu dihargai dengan memberi maaf pula. Jika sudah tidak rela memberi maaf pada teman, berarti membiarkan teman terbelenggu terus pada kesalahannya dan tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berubah lebih baik. (Igna)

10 Agustus 2011

10 Agustus 2011
Yoh.12:24-26 (Pesta S. Laurensius.Diak)
            Sungguh benar kata-Ku ini: Kalau sebutir gandum tidak ditanam ke dalam tanah dan mati, ia akan tetap tinggal sebutir. Tetapi kalau butir gandum itu mati, baru ia akan menghasilkan banyak gandum. Orang yang mencintai hidupnya akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang membenci hidupnya di dunia ini, akan memeliharanya untuk hidup sejati dan kekal. Orang yang mau melayani Aku harus mengikuti Aku; supaya pelayan-Ku dapat bersama-Ku di mana Aku berada. Orang yang melayani Aku akan dihormati Bapa-Ku."

Melayani Tuhan dengan Melayani Sesama
            Dalam perjalanan pulang sekolah Petra menjumpai seorang nenek yang sedang duduk bersandar pagar di pinggir trotoar sambil meminta sedekah kepadanya. Awalnya Petra ingin tetap berlalu dan tak menghiraukan keberadaan nenek itu. Namun, entah dari mana tiba-tiba Petra seperti mendengar suara seseorang yang berkata, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum’ Suara itu seakan nyata terdengar begitu jelas dalam diri Petra, maka Petra pun segera tersadar bahwa itu adalah suara Tuhan yang sedang mengingatkan dirinya di dalam hatinya. Maka, Petra pun segera menghentikan langkah kakinya, menghampiri nenek itu dan memberikan sisa uang saku yang masih ia miliki saat itu. ‘Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengingatkan aku untuk selalu menolong orang miskin yang memerlukan bantuan,’ kata Petra dalam hati. Tak lama kemudian, Petra pun melanjutkan perjalanannya  kembali ke rumah.
            Seseorang yang tinggal bersama-sama dengan Tuhan, ia akan selalu menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah jauh dari dirinya. Sebab ia percaya bahwa Tuhan selalu tinggal di dalam hatinya dan senantiasa menyertai kemana pun ia pergi. Oleh karena itu, bagi orang yang percaya kepada Tuhan ia akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan dan mengikuti nasihat-nasihatNya. Ia tetap setia berdoa, melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan menolong sesama yang membutuhkan dan tidak pernah mengeluh meskipun setiap hari kehidupannya dipenuhi dengan penderitaan.
            Mari kita setia melayani Tuhan dengan cara melayani sesama yang menderita dan menolong orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Sebab apa yang kita perbuat kepada sesama itu sama halnya kita melakukannya untuk Tuhan. (Meliana)

9 Agustus 2011

9 Agustus 2011
Mat 18:1-5,10,12-14
            Pada waktu itu pengikut-pengikut Yesus datang kepada-Nya dan bertanya, "Siapa yang dianggap terbesar di antara umat Allah?" Yesus memanggil seorang anak kecil, dan membuat dia berdiri di depan mereka. Lalu Yesus berkata, "Percayalah! Hanya kalau kalian berubah dan menjadi seperti anak-anak, kalian akan menjadi anggota umat Allah. Orang yang merendahkan dirinya dan menjadi seperti anak ini, dialah yang terbesar di antara umat Allah. Dan orang yang menerima anak yang seperti ini karena Aku, berarti menerima Aku.” "Awas! Jangan menghina salah satu dari orang-orang yang kecil ini. Sebab ingatlah, malaikat-malaikat mereka selalu ada di hadapan Bapa-Ku di surga. Bagaimanakah pendapatmu? Seandainya ada seorang yang mempunyai seratus ekor domba, lalu seekor dari domba-domba itu hilang, apakah yang akan dibuat oleh orang itu? Pasti ia akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor itu di bukit dan pergi mencari yang hilang itu. Dan kalau ia menemukan kembali domba itu -- percayalah Aku -- ia akan lebih gembira atas domba yang seekor itu daripada atas sembilan puluh sembilan ekor lainnya yang tidak hilang. Begitu juga Bapamu yang di surga tidak mau salah seorang dari orang-orang yang baru percaya kepada-Ku ini sesat."

Berteman Tulus
            Suatu hari, ketika Rudi sedang berkumpul dengan teman-temannya di depan kantin sekolah, ia melihat Sarwono yang sedang berjalan menghampirinya. Karena Rudi tidak mau berteman dengan Sarwono, maka ia pun segera mengajak teman-temannya untuk segera beranjak pergi dan menghindari Sarwono. Sudah lama Rudi memang tidak pernah mau bergaul dengan Sarwono, karena bagi Rudi, Sarwono adalah anak yang bodoh. Apalagi Sarwono itu anak orang miskin, pasti ia tidak bisa nyambung saat diajak bicara tentang aneka macam perkembangan tentang game komputer kegemarannya. Demikianlah pikiran Rudi tentang Sarwono. Sementara Sarwono yang sama sekali tak pernah mengira bahwa Rudi memiliki pikiran buruk demikian, ia tetap saja ingin berteman dengan Rudi seperti halnya ia berteman dengan yang lain.
            Sikap Rudi sangat jauh dari nasihat Yesus. Ia begitu sombong dan memandang Sarwono sebagai anak yang tidak berguna. Sementara Sarwono yang polos itu tidak pernah memiliki pikiran buruk sedikit pun tentang Rudi yang sebenarnya telah lama membenci dirinya. Sikap tulus dan apa adanya seperti halnya anak kecil yang tidak memiliki pikiran rumit dan penuh tipu muslihat itulah yang dikehendaki Tuhan. Sebab pikiran dan mulut yang penuh tipu muslihat itu mendatangkan dosa. Karena itu, mari kita selalu bersikap jujur dan tulus dalam bergaul dengan siapa saja tanpa memandang rendah orang lain. (Santikara Manahayu)

8 Agustus 2011

8 Agustus 2011
Mat 17:22-27 (Pw S. Dominikus,Im & pendiri Ordo Pengkotbah)
            Ketika pengikut-pengikut Yesus berkumpul di Galilea, Yesus berkata kepada mereka, "Tidak lama lagi, Anak Manusia akan diserahkan kepada kuasa manusia. Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka pengikut-pengikut-Nya menjadi sedih sekali. Waktu Yesus dan pengikut-pengikut-Nya sampai di Kapernaum, penagih-penagih pajak Rumah Tuhan datang kepada Petrus dan bertanya, "Gurumu membayar pajak Rumah Tuhan atau tidak?" Petrus menjawab, "Bayar!" Ketika Petrus pulang, Yesus menyapa dia lebih dahulu, "Simon, bagaimana pendapatmu? Siapa yang harus membayar bea atau pajak kepada raja-raja dunia ini? Rakyatkah atau orang asing?" "Orang asing," jawab Petrus. "Kalau begitu," kata Yesus, "rakyat tidak perlu membayar. Tetapi janganlah kita menyinggung perasaan orang-orang itu. Jadi, pergilah ke danau untuk memancing. Ambillah ikan pertama yang kautangkap. Di dalam mulutnya itu engkau akan menemukan mata uang yang cukup untuk pajak kita berdua. Ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka pajak kita untuk Rumah Tuhan."

Memberi Teladan Baik
Pagi itu, ketika pelajaran akan segera dimulai Astrid melihat meja guru masih belum tertata rapi dan papan tulis yang masih terdapat banyak coretan sisa pelajaran hari kemarin. Karena ternyata tak ada satu pun dari antara temannya yang bertugas hari itu mau membersihkan, Astrid segera beranjak dari tempat duduknya dan melakukan pekerjaan itu.
Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi Astrid untuk melakukan semua pekerjaan tersebut, karena ia memang tidak tercatat pada jadwal petugas hari itu. Namun demikian Astrid tetap melakukannya dengan senang hati. Sungguh terpuji sikap Astrid dan sangat pantas untuk kita ikuti.
Sikap Astrid itu juga telah mencerminkan sikap yang sangat baik sebagai anak Tuhan. Ia telah mengikuti teladan Tuhan Yesus yang mau dan rela untuk melakukan hal yang bukan menjadi kewajibannya. TuhanYesus yang meski tahu bahwa DiriNya benar namun Ia tidak ingin DiriNya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sebaliknya, Ia tetap berusaha untuk memberi teladan yang baik bagi semua orang. Bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya mau melakukan sesuatu hal yang baik hanya jika diperintahkan oleh orang lain ataukah kita telah memiliki kesadaran dalam diri kita sendiri untuk melakukan semua perbuatan baik meski tidak diwajibkan? Bukankah berbuat baik yang meskipun tak tertulis sebenarnya juga merupakan kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan? Oleh karena itu, mulai sekarang kita beri contoh yang baik kepada teman-teman kita yuk! (Tiara)

7 Agustus 2011

7 Agustus 2011
Mat 14:22-33 (Minggu Biasa XIX)
            Setelah itu Yesus menyuruh pengikut-pengikut-Nya naik perahu dan lebih dahulu menyeberang danau, sementara Ia menyuruh orang banyak itu pulang. Sesudah orang banyak itu pergi, Yesus naik sebuah bukit sendirian untuk berdoa. Waktu sudah malam, Yesus masih berada di situ sendirian. Sementara itu perahu yang ditumpangi pengikut-pengikut Yesus, sudah jauh di tengah-tengah danau. Perahu itu terhempas-hempas dipukul ombak, karena angin berlawanan arah dengan perahu. Antara pukul tiga dan pukul enam pagi, Yesus datang kepada mereka berjalan di atas air. Ketika pengikut-pengikut-Nya melihat Ia berjalan di atas air, mereka terkejut sekali. "Hantu!" teriak mereka ketakutan. Tetapi Yesus langsung menjawab, "Tenanglah! Aku Yesus. Jangan takut!" Lalu Petrus berkata, "Kalau Engkau memang Yesus, suruhlah saya datang berjalan di atas air." "Datanglah," jawab Yesus. Jadi Petrus turun dari perahu, berjalan di atas air dan datang kepada Yesus. Tetapi waktu Petrus melihat betapa besarnya angin di danau itu, ia takut dan mulai tenggelam. "Tuhan, tolong!" Teriaknya. Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan menangkap dia, dan berkata, "Petrus, Petrus, kau ini kurang percaya. Mengapa kau ragu-ragu kepada-Ku?" Lalu keduanya naik ke perahu itu, dan angin pun reda.

BERIMAN SEPENUH HATI
Malam itu Arman pulang terlambat. Meski hari telah mulai gelap Armand tidak ragu dan ia yakin bahwa ia akan baik-baik saja, apalagi ia telah membawa rosario. Namun ketika ia hendak melintasi sebuah gang kecil yang terlihat sangat gelap, ia mulai merasa ketakutan dan mulai membayangkan hal-hal yang buruk. Karena tak kuat lagi menahan rasa takutnya, ia pun segera lari terbirit-birit sampai akhirnya menabrak tiang telepon yang ada di ujung jalan, gedubraaakk..! “Aduuh..aduuh.., Toloong.., Toloong..!” Arman teriak-teriak begitu saja, meski sebenarnya ia sendiri pun tak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Tak jauh dari tempat itu, ternyata ada penjual nasi goreng yang terkejut mendengar suara teriakan minta tolong itu. Lantas, ia segera berlari meninggalkan gerobaknya dan menghampiri sumber suara itu. Sesampainya di tempat itu, penjual nasi goreng itu melihat arman yang tengah berguling-guling di tanah menahan sakit. Ternyata kepalanya berdarah akibat membentur tiang telepon itu. Arman pun segera ditolong oleh penjual nasi goreng itu dan diantar pulang ke rumahnya. Untung saja ada penjual nasi goreng yang baik hati itu. Kalau saja ia tidak sedang melintas di daerah situ, entah bagaimana nasib Arman tadi.
Dari pengalaman Arman itu kita bisa memahami bahwa ternyata iman bukan saja hanya sebatas diyakini dalam kata-kata ya? Tapi iman itu harus dihayati dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Kalau saja Arman benar-benar beriman pada Tuhan, ia tidak perlu ketakutan seperti itu. Bukankah sejak awal sebenarnya ia telah mengungkapkan keyakinannya bahwa ia akan baik-baik saja karena ada Tuhan yang akan menjaganya? Sikap iman Arman ini tidak jauh beda dengan Santo Petrus yang pada saat itu tidak sepenuhnya percaya pada Tuhan Yesus. Akibat dari imannya yang setengah-setengah itu, pada akhirnya ia pun jatuh dan tenggelam. Untung Tuhan Yesus yang berbelas kasih itu segera menolong Santo Petrus dan menyelamatkannya. Demikian halnya kita, bila kita percaya pada Tuhan Yesus, maka percayakanlah seluruh hidup kita kepadaNya dan yakinilah bahwa bersama Tuhan Yesus kita pasti selamat dan akan selalu baik-baik saja. (Anandita)

6 Agustus 2011

6 Agustus 2011
Mat 17:1-9 (Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya)
            Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus dengan Yakobus dan saudaranya Yohanes, menyendiri ke sebuah gunung yang tinggi. Di depan mereka, Yesus berubah rupa: Muka-Nya menjadi terang seperti matahari dan pakaian-Nya putih berkilauan. Kemudian ketiga pengikut-Nya itu melihat Musa dan Elia berbicara dengan Yesus. Lalu Petrus berkata kepada Yesus, "Tuhan, enak sekali kita di sini. Kalau Tuhan suka, saya akan mendirikan tiga kemah di sini: satu untuk Tuhan, satu untuk Musa, dan satu lagi untuk Elia." Sementara Petrus masih berbicara, awan yang terang sekali meliputi mereka dan dari awan itu terdengar suara yang berkata, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku. Dengarkan Dia!" Waktu pengikut-pengikut Yesus mendengar suara itu, mereka begitu ketakutan sehingga tersungkur ke tanah. Tetapi Yesus datang dan menyentuh mereka. "Bangunlah," kata-Nya, "jangan takut!" Ketika mereka memandang, mereka tidak melihat siapa pun, kecuali Yesus saja. Waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus memperingatkan mereka, "Jangan memberitahukan kepada siapa pun apa yang kalian lihat tadi, sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari kematian."

JANGAN TERLENA
            Saat liburan sekolah, Toni bersama seluruh keluarga dan sanak famili pergi ke pantai Bale Kambang yang terletak di Malang Selatan. Semua orang, tak terkecuali Toni juga terlihat sangat senang menikmati pemandangan pantai yang mirip tanah lot itu. Tak lama kemudian Toni mengajak sanak saudaranya untuk bermain sepak bola di atas pasir pantai yang terlihat putih menghampar di situ. Sementara mereka sedang asyik bermain, adik-adik justru lebih menikmati acara berfoto ria di pura pulau karang sambil sesekali memandangi Toni yang masih terlihat asyik bermain di bawah. Liburan yang sungguh menyenangkan, hingga tanpa terasa hari telah menjelang senja. Ayah yang saat itu mulai melihat matahari yang sudah hampir terbenam segera mengajak semua anggota keluarga dan sanak familinya untuk segera kembali ke rumah. Namun, Toni menolak ajakan ayah dan mengajak sanak saudaranya untuk meneruskan permainan mereka.
            Ketika mereka sedang asyik bermain, ternyata air laut telah mulai pasang. Karena menyadari keadaannya mulai berbahaya, maka ayahpun segera berteriak memperingati Toni untuk segera berhenti bermain dan menuruti perintah ayah sebab tak lama lagi air laut akan menutupi seluruh pantai. Untung saja kali ini Toni mau mendengarkan ayahnya dan akhirnya ia selamat dari terjangan ombak pasang laut.
            Seringkali kita lupa diri bila sedang asyik menikmati sesuatu hal yang menjadi kesenangan kita. Demikian pula, ketika kita sedang berada dalam keadaan hidup yang serba enak dan nyaman, tak jarang kita menjadi lupa diri dan mengganggap bahwa semuanya akan selalu baik baik adanya tanpa menyadari bahwa mungkin saja ada bahaya yang sedang mengintai kehidupan kita. Suara Tuhan adalah suara kebenaran, jadi ketika kita mau mendengarkan dan mengikuti apa yang benar sama halnya kita mendengarkan suara Tuhan yang pastinya akan menyelamatkan kita. Apakah kita telah mendengarkan suara Tuhan, baik yang disabdakan dalam Kitab Suci maupun yang disampaikan Tuhan melalui teguran orang lain? (Alp. Suharjono)